Mahasiswa Universitas Prabumulih bersama dosen pendamping melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke Integrated Waste and Agro Center ITERA (IWACI) pada 23 Juli 2026. Kunjungan ini bertujuan memberikan pengalaman belajar langsung mengenai inovasi dan teknologi yang dikembangkan IWACI dalam mendukung konsep zero waste.
IWACI merupakan pusat riset terpadu di lingkungan ITERA yang mengembangkan sistem pengelolaan limbah secara terintegrasi. Sistem ini mencakup produksi pupuk organik, budidaya maggot, peternakan terpadu, biogas, gasifikasi biomassa, pirolisis, penyulingan minyak serai, hingga pemanfaatan sisa pengolahan limbah menjadi batako.
Selama kunjungan, salah satu teknologi utama yang diperkenalkan adalah unit gasifikasi biomassa. Unit ini mampu mengubah limbah kayu dan biomassa kering menjadi gas sintetis (syngas) melalui pembakaran dengan suplai oksigen yang sangat terbatas. Syngas yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bakar penghasil energi panas maupun penggerak generator listrik skala kecil. Selain itu, rombongan juga meninjau operasional unit pirolisis yang berfungsi mengolah sampah anorganik. Dengan memanaskan sampah pada suhu 300–400°C tanpa oksigen, unit yang beroperasi dua siklus per hari (dengan kapasitas 50 kg per siklus) ini menghasilkan biochar, minyak pirolisis, serta gas yang dapat kembali dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Peserta KKL juga memperoleh pemaparan mengenai budidaya larva maggot (Black Soldier Fly). Larva ini dikenal efektif mengurai limbah organik hanya dalam waktu 14–18 hari. Hasilnya, larva dimanfaatkan sebagai sumber protein berkualitas tinggi untuk pakan ikan dan unggas, sedangkan sisa media budidayanya (kasgot) dikonversi menjadi pupuk organik. Rombongan juga melihat instalasi biogas yang mengolah kotoran ternak menjadi gas metana. Gas ini sangat penting karena mendukung operasional unit lain di IWACI, salah satunya sebagai sumber panas utama pada proses penyulingan minyak serai. Seluruh sistem peternakan di IWACI memang dikembangkan agar terintegrasi penuh dengan unit-unit pengolahan limbah tersebut.
Kunjungan ditutup dengan melihat langsung unit penyulingan minyak serai yang mengimplementasikan metode distilasi uap. Proses ini menghasilkan minyak atsiri bernilai ekonomi tinggi yang menjadi bahan baku parfum, aromaterapi, dan kosmetik, serta dirancang efisien karena memanfaatkan panas buang dari biogas dan LPG. Melalui kegiatan KKL ini, mahasiswa Universitas Prabumulih diharapkan tidak hanya memperoleh wawasan praktis mengenai pengelolaan limbah dan energi terbarukan, tetapi juga turut mempererat kerja sama akademik antara Universitas Prabumulih dan ITERA dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan inovasi teknologi ke depannya.

